Allah Masih Berbicara

Membaca Alkitab dengan Penuh Ketakjuban

Tahun baru pembacaan Alkitab sudah di depan mata. Beberapa orang, seperti lima gadis bijaksana yang sudah mempersiapkan pelita mereka, telah menyusun strategi baru untuk membaca seluruh Alkitab atau mempelajari bagian-bagian tertentu; sementara yang lain bergegas di tengah malam untuk menemukan bahan bakar baru untuk menyalakan cahaya yang redup dari ambisi mereka. Di mana pun Anda berada, niat untuk menyusun pembacaan Alkitab Anda pada tahun yang baru adalah hal yang patut dipuji. Bagaimanapun juga, kita orang Kristen adalah umat Kitab Suci.

Inserted image

Akan tetapi, mengapa kita harus membuat rencana untuk membaca Alkitab? Apakah perencanaan seperti itu mengalir dari rasa tanggung jawab, perasaan bahwa membaca Alkitab secara disiplin setiap hari adalah sesuatu yang harus Anda lakukan? Ataukah semangat itu berasal dari rasa malu karena kegagalan niat baik tahun lalu, yang mungkin terbakar menjadi abu dalam upaya melampaui pembacaan Kitab Imamat? Atau, mungkin hanya karena kebiasaan yang mendorong Anda untuk membuka Alkitab setiap hari. Kebiasaan membaca firman Tuhan itu baik; rasa malu karena kegagalan di masa lalu mungkin dapat membantu jika hal itu mendorong Anda untuk menjadi saleh; rasa tanggung jawab pun dapat menjadi dorongan yang kuat untuk melakukan tindakan-tindakan yang kudus.

Namun, dengan sendirinya, baik kebiasaan, rasa malu, maupun kewajiban tidak akan menuntun Anda untuk membuka firman Tuhan setiap hari dengan sikap hati yang rendah hati dan penuh sukacita. Sikap seperti itu hanya datang dari kesadaran yang menakjubkan bahwa di dalam halaman-halaman Alkitab, Allah benar-benar berbicara.

Kitab Napas Allah

Ketika para nabi berbicara kepada para pendengarnya -- para raja atau janda, umat Allah atau bangsa-bangsa kafir -- mereka sering kali menggunakan formula pengantar, "Beginilah firman Tuhan." Mereka tidak memerlukan bukti-bukti yang ajaib. Para nabi tidak memberikan argumen yang mendetail untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka katakan berasal dari Tuhan. Tuhan telah berfirman. Melalui corong kenabiannya, Dia berbicara kepada seseorang atau beberapa orang tertentu. Meski para pemberita itu adalah manusia, perkataan mereka adalah perkataan Allah sendiri (2 Petrus 1:21).

Paulus menjelaskan dengan gamblang bahwa Kitab Suci -- seluruhnya -- adalah 'theopneustos', yang berarti "dinapasi oleh Allah" (2 Timotius 3:16, AYT). Dia tidak mempermasalahkan apakah beberapa bagian dari Alkitab merupakan tambahan dari manusia atau tidak relevan lagi dengan kondisi budaya saat ini. Dia berpegang teguh pada formula kenabian: "Demikianlah firman Tuhan." Kitab Suci adalah firman Allah.

Selain itu, Kitab Suci adalah firman Allah yang menyatakan jati diri Allah Tritunggal -- Dia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan datang -- Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang sempurna secara kekal. Firman itu berasal dari Dia yang setia, yang pada-Nya tidak ada perubahan atau pertukaran bayangan, yang berkuasa atas segala sesuatu dengan kedaulatan yang absolut dan sempurna. Firman dari Dia yang menciptakan dan menebus umat-Nya untuk membawa mereka ke dalam persekutuan Tritunggal-Nya sebagai anak-anak angkat-Nya, melalui karya pengorbanan yang penuh kasih dari Sang Anak yang berinkarnasi. Firman Allah ini benar-benar berotoritas dan benar, karena Dialah yang mengucapkannya.

Disampaikan oleh Allah

Apa arti semuanya ini ketika kita membuka Alkitab? Secara sederhana dan luar biasa hanya berarti satu hal: Allah tidak diam. Seluruh kata-kata yang kita temukan pada halaman-halaman Alkitab adalah benar-benar firman-Nya. Apa yang kita temukan di antara sampul-sampul kulit itu bukanlah kumpulan teks yang tidak beraturan, yang disatukan oleh beberapa ahli Taurat dan orang-orang kudus, dengan sedikit kebijaksanaan dan tip untuk menolong diri sendiri. Kata-kata itu bukan hanya cuplikan sejarah yang menarik yang darinya kita dapat menarik pelajaran hidup, atau kisah-kisah yang dapat kita gunakan sesuai keinginan kita.

Sebaliknya, Alkitab adalah sebuah pewahyuan, sapaan Allah kepada umat-Nya yang melaluinya Dia memperkenalkan diri dan memanggil umat-Nya untuk takut akan Dia, hidup menurut jalan-Nya, mengasihi Dia, melayani Dia dengan segenap hati dan segenap jiwa, serta berpegang pada segala perintah dan ketetapan-Nya (Ulangan 10:12-13). Dan, Dia berbicara kepada kita demi kebaikan kita. Tentang hal ini John Owen menulis,

Allah telah mengumpulkan ke dalam Kitab Suci seluruh wahyu ilahi yang telah diberikan-Nya sejak permulaan dunia, dan semua yang akan disingkapkan-Nya pada akhir zaman ... agar [gereja] dibentuk sepenuhnya di dalam seluruh pikiran dan kehendak Allah, serta diarahkan dalam semua penyembahan dan ketaatan kepada-Nya, yang diperlukan untuk membuat kita diterima oleh-Nya di dunia ini, dan membawa kita kepada kenikmatan kekal di dalam Dia. (Reason of Faith,hlm. 85)

Allah tidak membiarkan kita meraba-raba dalam kegelapan, tanpa arah, menggenggam bayang-bayang, dan berharap menemukan suatu tujuan. Dia telah berbicara. Faktanya, Dia masih terus berbicara.

SIKAP KETAKJUBAN

Sebagai ciptaan, tanggapan seperti apa yang pantas kita nyatakan sesuai fakta bahwa Allah masih terus berbicara dan menyatakan diri-Nya melalui Alkitab? Jika Dia, Allah yang menciptakan seluruh dunia ini dengan berfirman dan yang membuat seluruh ciptaan berguncang dengan suara-Nya, menyapa kita dengan kata-kata yang jelas, sederhana, dan mendalam melalui firman-Nya dalam Kitab Suci, serta menggunakannya untuk memanggil kita kepada tujuan kita -- kenikmatan kekal akan diri-Nya -- bagaimana lagi kita dapat merespons sapaan itu kecuali dengan ketakjuban?

Ketakjuban seperti itu akan mendorong kita untuk meraih kesempatan membuka firman Tuhan, serta mendengarkannya dengan sikap kerendahan hati, rasa syukur, dan sukacita.

Kerendahan Hati

Sikap yang penuh ketakjuban akan menerima firman Allah dengan kerendahan hati. Kita tidak memiliki klaim atas firman dari Sang Pencipta kita, tidak memiliki hak, tetapi Dia berbicara kepada kita dengan bebas, membuka hati-Nya kepada kita, menunjukkan karakter-Nya kepada kita, mengundang kita untuk bersekutu dengan-Nya. Dengan perkataan yang penuh kasih karunia, Dia meremukkan kesombongan kita dan menerangi jalan kita yang gelap.

Benarlah kita gemetar mendengar firman dari Dia yang duduk di atas takhta? Sudah sepatutnya kita tunduk untuk mengakui kerendahan dan keberdosaan kita di hadapan Allah yang Maha Kuasa dan Maha Benar. Ketakjuban terhadap firman Allah menuntun kita untuk menerima firman-Nya sebagaimana adanya kita, yaitu ciptaan -- makhluk yang diciptakan-Nya dan yang menerima kehidupan serta tujuan dari-Nya.

Apakah Anda membuka firman dengan kerendahan hati, dengan sikap hati yang siap untuk dikonfrontasi dan direndahkan?

Syukur

Sikap yang penuh ketakjuban menerima firman Allah dengan rasa syukur dan menyadari bahwa firman Allah itu sendiri adalah sebuah anugerah. Dia tidak menyatakan diri untuk sekadar menghancurkan kesombongan kita, kemudian meninggalkan kita dalam keadaan hancur. Dia berfirman untuk memberikan kehidupan. Dia berfirman untuk menyembuhkan, membalut luka, membebaskan dari belenggu, mengajarkan perintah-perintah, dan memberikan hikmat. "Firman-Nya diberikan", kata Owen, "agar kita dapat diajar secara menyeluruh dalam segenap pikiran dan kehendak Allah." Menerima firman Allah dengan rasa syukur berarti kita tidak menuntut firman itu memenuhi kriteria yang telah kita bayangkan sebelumnya. Rasa syukur tidak menolak pemberian karena tidak sesuai dengan harapan, tetapi menerimanya dengan ucapan syukur, sesuai dengan maksud Sang Pemberi.

Hadiah terbaik biasanya datang dari orang-orang yang paling mengenal kita. Tuhan kita -- Dia yang membentuk kita dan mengetahui pikiran serta keinginan kita yang paling dalam, yang mengetahui dengan pasti apa yang terbaik untuk kita -- telah memberikan karunia firman-Nya kepada kita. Dia bermaksud agar kita menggunakan karunia ini karena ingin agar kita mengenal dan dipuaskan di dalam Dia.

Apakah Anda membuka firman dengan rasa syukur, siap untuk dibangun dan dihiburkan?

Sukacita

Kita tidak memiliki klaim atas firman Pencipta kita, tidak memiliki hak, namun Ia berbicara kepada kita dengan bebas, membuka hati-Nya kepada kita.”

.

Sikap yang penuh ketakjuban menerima firman Allah dengan sukacita. Dia tidak berbicara karena kesepian atau membutuhkan teman, tetapi karena mengundang kita untuk mengenal dan dipuaskan dalam Dia. Singkatnya, Dia memanggil kita untuk bersukacita. Inilah sebabnya mengapa pemazmur dapat menulis, "Aku bersuka atas jalan kesaksian-Mu, seperti atas segala harta .... Aku akan bergembira dalam ketetapan-ketetapan-Mu; aku takkan melupakan perkataan-Mu." (Mazmur 119:14, 16, AYT) Allah membuat diri-Nya dikenal oleh kita. Sukacita kita tidak dimulai ketika kehidupan di dunia ini berakhir; sukacita kita justru dimulai sekarang karena Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, menyelamatkan kita, menjadikan kita anak-anak-Nya, serta berbicara kepada kita dengan kasih dan kelembutan. Dia membuat kita untuk mengenal dan menikmati Dia. Untuk itu, Dia memberi kita Kitab Suci.

Apakah Anda membuka firman dengan sukacita, dengan kerinduan untuk mendengar suara Dia yang telah menciptakan, menyelamatkan, dan mengangkat Anda menjadi anak-Nya?

Buka Alkitab, Buka Hati

Buatlah rencana untuk membaca Alkitab pada tahun yang baru. Sediakan waktu, dengan sengaja, di tengah-tengah kesibukan Anda. Kembangkanlah kebiasaan baru (atau menghidupkan kembali kebiasaan lama) untuk datang setiap hari kepada Alkitab dan mendengarkan firman Allah. Lakukan dengan penuh doa dan pengharapan bahwa Allah akan menjawab doa tersebut. Jika kita datang dengan penuh ketakjuban, kebiasaan ini tidak akan berkurang seiring berjalannya waktu, karena disiplin membaca Alkitab tidak akan menjadi sesuatu yang menjemukan, melainkan sesuatu yang menyenangkan.

Dalam kisah pertobatan Agustinus yang terkenal, dia mendengar suara seorang anak kecil bernyanyi, "Tolle lege, tolle lege" -- ambillah dan bacalah. Dia pun membuka Kitab Suci, dan Allah membuka hatinya. Biarlah lagu itu bergema dalam hati Anda pada tahun ini, ketika Anda mendengarkan panggilan-Nya dengan kerendahan hati, rasa syukur, dan sukacita, karena perasaan takjub bahwa Tuhan atas segala ciptaan berbicara kepada Anda.

Ambillah dan bacalah. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat artikel : https://www.desiringgod.org/articles/god-still-speaks
Judul asli artikel : God Still Speaks
Penulis artikel : Seth Porch

Mulai PA Online sekarang!