Mengapa Yesus Berbicara dalam Perumpamaan? (Kekuatan Cerita) -- Pemikiran Ulang

Mengapa Yesus berbicara dalam perumpamaan?

Jika Anda pernah membaca kitab-kitab Injil, Anda mungkin memperhatikan bahwa Yesus sering berbicara melalui perumpamaan atau cerita. Namun, pernahkah Anda bertanya, mengapa demikian? Mengapa cerita begitu penting bagi Yesus?

Matius 13:34-35 memberikan salah satu jawabannya. Yesus berbicara dalam perumpamaan untuk menggenapi nubuat dan, untuk sementara waktu, menyembunyikan maksud-Nya. Namun, saya rasa ada tujuan dan makna yang lebih besar di balik alasan Yesus memakai perumpamaan.

Yesus memahami sesuatu tentang cerita yang sering kali luput dari perhatian kita: cerita memiliki kuasa.

Mengapa Yesus Berbicara dalam Perumpamaan?

Inserted image

Beberapa kali dalam kitab-kitab Injil, seseorang datang kepada Yesus dan mengajukan pertanyaan. Namun, alih-alih memberikan jawaban langsung, Yesus justru menceritakan sebuah kisah yang lengkap. Sebenarnya, Dia tidak harus melakukannya. Jawaban singkat pun mungkin sudah cukup.

Dalam khotbah dan pengajaran-Nya, Yesus sering memakai ilustrasi, perumpamaan, dan cerita. Dia tidak hanya menyampaikan ceramah yang penuh fakta, tetapi melukiskan gambaran melalui kata-kata-Nya. Dia tidak harus melakukannya; mungkin akan lebih mudah jika Dia langsung menyampaikan fakta-faktanya.

Inilah maksud saya: cerita lebih kuat daripada ceramah. Saya tidak mengatakan bahwa ceramah atau pengajaran tidak memiliki tempat. Namun, ceramah, fakta, dan informasi saja sering kali tidak cukup untuk menghasilkan perubahan yang bermakna. Cerita jauh lebih efektif untuk membawa perubahan hidup.

Yesus memahami kuasa cerita dan menggunakannya untuk menginspirasi serta membawa perubahan dalam diri para pendengar-Nya.

Namun, saya rasa masih ada hal lain yang dapat kita pelajari dari Yesus. Mengapa Yesus berbicara dalam perumpamaan? Mari kita melihat kuasa cerita.

Berikut empat alasan mengapa cerita memiliki kuasa yang besar.

1. Jawaban Tidak Sepenting yang Kita Pikirkan

Dalam budaya Barat, kita cenderung terlalu menekankan pentingnya jawaban. Bagi kita, pengetahuan adalah kekuatan dan informasi adalah raja. Saya tidak mengatakan bahwa keduanya tidak penting. Namun, keduanya tidak selalu sepenting yang kita kira.

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa Yesus sering tidak menjawab pertanyaan sesuai harapan orang yang bertanya? Dia kerap mengarahkan pembicaraan kepada sesuatu yang tampaknya berbeda sama sekali. Sekilas, Yesus mungkin terlihat seperti mengabaikan pertanyaan itu atau seakan-akan kurang fokus. Namun, bukan itu yang terjadi. Dia mengetahui hati mereka dan langsung menyentuh inti persoalannya.

Kadang-kadang, jawaban yang kita pikir kita butuhkan tidak akan membawa hal yang kita harapkan. Kadang-kadang, pertanyaan yang kita ajukan bukanlah hal yang sebenarnya kita cari. Allah memberi kita apa yang kita butuhkan, yaitu hal yang sebenarnya sedang kita rindukan. Namun, Dia tidak selalu memberi jawaban yang kita cari.

Itulah sebabnya Yesus sering menjawab pertanyaan dengan perumpamaan. Dia tahu bahwa jawaban langsung tidak selalu membawa penghiburan, harapan, atau perubahan hidup. Namun, sebuah cerita dapat melakukannya.

2. Cerita Mudah Diingat dan Dibagikan

Cerita yang baik akan melekat dalam ingatan. Anda mungkin masih mengingat cerita yang pernah disampaikan seseorang bertahun-tahun lalu. Mungkin tidak semua detailnya, tetapi Anda masih mengingat inti ceritanya. Cerita mudah dibawa ke mana saja; cerita tinggal dalam ingatan kita.

Sebaliknya, fakta, tanggal, dan rumus yang kita hafalkan selama bertahun-tahun di sekolah sering kali cepat memudar setelah kita menerima ijazah. Informasi saja tidak selalu mudah melekat. Informasi mudah dilupakan.

Namun, ketika sebuah cerita dikaitkan dengan pelajaran, ceramah, atau pengajaran, informasi itu menjadi jauh lebih mudah diingat.

Di sinilah kejeniusan pengajaran Yesus. Dia bisa saja datang dan menyampaikan segala sesuatu secara langsung. Bagaimanapun, di dalam Dia segala sesuatu diciptakan dan ditopang. Dia mengetahui fakta-fakta itu; Dia bahkan menciptakan fakta-fakta itu. Namun, Dia tidak memilih cara itu. Sebaliknya, Dia menceritakan kisah-kisah yang memuat kebenaran di dalamnya.

Cerita mudah diingat dan dibagikan. Ketika kebenaran dikaitkan dengan cerita, kebenaran itu pun menjadi lebih mudah melekat dan dibagikan.

3. Cerita Menginspirasi

Jarang sekali hidup seseorang berubah hanya karena membaca informasi atau berhadapan dengan fakta. Banyak orang justru mengabaikan fakta dan hidup berdasarkan narasi yang terasa lebih menarik bagi mereka. Mengapa? Karena cerita menginspirasi. Informasi, bahkan kebenaran yang disajikan hanya sebagai data, sering kali tidak menggerakkan orang.

Orang cenderung mengikuti hal yang menginspirasi mereka.

Apakah Anda melihat kesenjangan ini? Sekolah, tempat kerja, pola pengasuhan, bahkan banyak gereja sering berfokus pada informasi, bukan inspirasi.

Kebenaran yang disampaikan hanya sebagai informasi sering kali belum cukup untuk menciptakan perubahan hidup bagi banyak orang.

Namun, ketika kebenaran dipadukan dengan inspirasi, perubahan hidup menjadi jauh lebih mungkin terjadi. Itulah yang dilakukan Yesus. Dia mengaitkan perumpamaan-Nya dengan kebenaran tentang Kerajaan-Nya. Dan, cara itu berhasil.

Cerita menginspirasi. Kita tidak dapat mengharapkan informasi saja mengubah hidup seseorang. Orang akan mengarahkan hidupnya kepada hal yang menginspirasi mereka. Itulah salah satu alasan Yesus memakai cerita, dan itulah sebabnya kita juga perlu lebih banyak memakai cerita dalam hidup kita.

4. Cerita Melukiskan Gambaran tentang Apa yang Mungkin dan Seharusnya Terjadi

Kita membutuhkan sasaran, tujuan, dan sesuatu yang dapat kita arahkan. Cerita memberi kita hal itu. Cerita melukiskan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi. Cerita memberi kita tujuan yang dapat kita arahkan dalam hidup.

Menurut saya, cerita tidak hanya berguna untuk menyampaikan pesan atau menginspirasi perubahan. Cerita memiliki peran penting dalam keberadaan kita. Kita membutuhkan cerita. Tanpa cerita, kita akan kehilangan arah.

Sekali lagi, cerita menjadi paling kuat ketika dikaitkan dengan kebenaran. Itulah yang dilakukan Yesus. Dia melukiskan gambaran demi gambaran tentang seperti apa hidup bersama-Nya. Hal itu berlaku baik dalam kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Yesus memberi para pengikut-Nya sesuatu untuk dituju dalam hidup mereka. Itulah yang dilakukan perumpamaan-Nya. Cerita melukiskan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi.

Kisah-Kisah yang Diceritakan Yesus

Selama bertahun-tahun, saya sesekali menulis tentang perumpamaan yang Yesus ceritakan. Saya sudah lama terpesona oleh kisah-kisah ini, dan saya ingin orang lain juga melihat maknanya. Yesus adalah pencerita yang sangat mahir, tetapi hari ini saya rasa kita belum cukup menghargai hal itu. Ketika kita mulai menguraikan kisah-kisah itu dan memahami apa yang Yesus lakukan, kita akan memiliki penghargaan yang jauh lebih besar terhadapnya. Seiring dengan penghargaan itu, iman kita pun akan semakin diperdalam.

Yesus memahami sesuatu tentang cerita yang sering kali luput dari perhatian kita: cerita memiliki kuasa.

Yesus adalah pencerita yang sangat mahir. Jika kita mengizinkannya, perumpamaan Yesus masih dapat memberi dampak hingga hari ini. Namun, kisah-kisah itu bukan hanya untuk kita. Kisah-kisah itu juga diberikan kepada kita untuk dibagikan. Yesus memberi kita cara yang efektif untuk menyampaikan pesan-Nya. Cerita mudah diingat, menginspirasi, dan melukiskan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi.

Kita tidak hanya perlu menceritakan kembali kisah-kisah yang Yesus ceritakan, tetapi juga perlu memakai cerita di sekolah, tempat kerja, dan rumah kita. Alih-alih hanya mengandalkan ceramah untuk menyampaikan pesan, kita perlu mengaitkan informasi dengan sebuah cerita.

Hidup dalam Sebuah Narasi

Saya menyadari bahwa sampai di titik ini, saya sudah menulis tentang pentingnya cerita tanpa menceritakan sebuah cerita. Jadi, izinkan saya memperbaikinya dengan membagikan dampak cerita dalam hidup saya.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya membaca sebuah buku yang mengubah cara saya memandang hidup. Buku itu berjudul "A Million Miles in a Thousand Years" karya Donald Miller.

Dalam buku itu, Donald Miller melihat hidup melalui lensa narasi. Dia berpendapat bahwa kebanyakan dari kita puas dengan realitas yang membosankan, padahal Allah memiliki narasi yang bermakna bagi kita. Buku itu mengguncang cara berpikir saya. Saya tidak lagi melihat hidup sekadar sebagai rutinitas harian, tetapi sebagai sebuah cerita yang sedang saya tulis.

Saya pun membangun narasi baru bagi hidup saya. Saya ingin menjalani hidup sebagai cerita yang layak diceritakan. Dengan dorongan baru itu, saya mulai melihat keputusan-keputusan saya melalui lensa ini: Apakah keputusan ini menambah nilai pada cerita yang sedang saya tulis? Narasi seperti apa yang hidup saya sampaikan kepada orang-orang yang memperhatikan saya? Apakah cerita hidup saya mengarahkan orang lain kepada Allah, atau saya sedang menjalani cerita yang hanya berpusat pada diri sendiri?

Dulu saya takut menghadapi konflik, kesulitan, dan ketidakpastian. Namun, sekarang saya menyadari bahwa setiap kisah yang baik memiliki konflik dan sesuatu untuk diatasi. Jika saya ingin hidup saya menjadi kisah yang layak diceritakan, saya harus mengatasi tantangan dalam hidup saya, bukan menyerah kepadanya.

Izinkan saya menutup dengan sebuah kutipan dari Don Miller:

"Entah bagaimana, kita menyadari bahwa kisah-kisah besar diceritakan melalui konflik, tetapi kita enggan menerima potensi keagungan dari kisah yang sebenarnya sedang kita jalani. Kita menganggap Allah tidak adil, padahal Dia adalah pencerita yang mahir." -- "A Million Miles in a Thousand Years"

Hidup Anda adalah sebuah cerita. Hidup Anda sedang menceritakan sesuatu tentang Allah kepada orang-orang di sekitar Anda. Jadi, jangan puas dengan realitas membosankan yang dijalani oleh kebanyakan orang. Sebaliknya, izinkan Allah menceritakan narasi bermakna yang memang Dia maksudkan untuk Anda jalani. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Medium
Alamat artikel : https://jefferypoor.medium.com/why-did-jesus-speak-in-parables-the-power-of-stories-rethink-80f2980fdaae
Judul asli artikel : Why Did Jesus Speak In Parables? (the power of stories) -- rethink
Penulis artikel : Jeffery Curtis Poor
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!