Bob Hartman dikenal luas karena pendekatannya dalam bercerita untuk memperkenalkan orang kepada Alkitab dan menolong mereka memahami pesannya. Saat ini, dia merayakan ulang tahun ke-25 buku "Lion Storyteller Bible", yang diterbitkan kembali dalam edisi baru untuk menandai peringatan tersebut. Saya (Ian Paul) berkesempatan berbincang dengannya dan menanyakan pendekatannya dalam mengajarkan Alkitab melalui cerita.
Ian Paul (IP): Bagaimana Anda mulai menggunakan cerita [untuk mengajarkan Alkitab]?
Bob Hartman (BH): Gereja pertama yang saya pimpin memiliki jemaat lanjut usia yang sangat mengenal Alkitab. Karena itu, setiap kali saya mulai menceritakan sebuah kisah Alkitab, saya sering mendapat tatapan yang seolah berkata, "kami sudah pernah mendengarnya". Dari situlah saya mulai menceritakan kembali kisah-kisah tersebut dari sudut pandang yang berbeda, dengan harapan dapat mengejutkan dan membangkitkan rasa ingin tahu mereka, lalu menarik mereka masuk ke dalam cerita itu dengan cara yang baru.
Salah satu jemaat menyarankan agar saya mencoba menerbitkan cerita-cerita tersebut, dan dorongan itu membuat saya melangkah lebih jauh. Setahun atau dua tahun kemudian, saya meninggalkan gereja itu dan kembali ke kota kelahiran saya, Pittsburgh. Saudara saya bekerja di teater anak-anak dan memutuskan ingin melakukan sesuatu yang lebih sederhana, dan bercerita tampaknya cocok dengan keinginan itu. Karena itu, kami membentuk sebuah duo pencerita dan mulai mengunjungi sekolah-sekolah, sambil mempelajari seni bercerita hampir sepenuhnya melalui trial and error. Setahun atau dua tahun kemudian, The Pittsburgh Children’s Museum mempekerjakan kami, dan kami mengunjungi sekolah-sekolah di wilayah Pittsburgh atas nama mereka. Karena adanya pemisahan antara gereja dan negara, cerita yang kami sampaikan dalam konteks tersebut bukan cerita Alkitab, tetapi kami berusaha keras memilih cerita-cerita yang mencerminkan kebenaran Alkitab. Pada saat yang sama, kami juga menciptakan pertunjukan bercerita untuk sebuah perusahaan teater Kristen lokal, yang kemudian kami turkan di gereja-gereja.
IP: Apa yang membuat Anda mengembangkan The Storyteller Bible? Apa tantangan yang Anda hadapi?
BH: Setelah saya dan saudara saya terlibat dalam dunia bercerita selama lima atau enam tahun, saya mulai memikirkan gagasan untuk The Storyteller Bible. Pada saat itu, saya sudah cukup percaya diri dengan apa yang saya pelajari tentang bercerita, dan Lion Hudson juga telah menerbitkan beberapa buku saya, sehingga saya merasa ide tersebut layak untuk diajukan. Sepengetahuan saya, belum ada yang pernah mencoba hal seperti itu sebelumnya, dan untungnya mereka bersedia mengambil risiko dengan gagasan tersebut.
Kuncinya adalah menulis untuk didengar, dengan harapan teksnya tidak hanya dibaca, tetapi juga disampaikan secara lisan dalam gaya bercerita. Karena itu, saya memasukkan unsur ritme dan pengulangan ke dalam teks, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pengalaman bercerita secara lisan. Saudara saya dan saya juga mengembangkan teknik interaktif yang mengajak audiens ikut berperan dalam menghidupkan cerita -- melalui gerakan, frasa-frasa berulang, dan berbagai elemen serupa. Unsur-unsur ini kemudian saya sisipkan ke dalam teks. Pada edisi pertama buku tersebut belum ada petunjuk tentang cara menggunakannya, tetapi ketika kami memperluas teks untuk edisi kedua, kami menyadari bahwa banyak orang benar-benar memakainya sebagai sumber untuk bercerita. Karena itu, kami menambahkan bagian di akhir buku yang berisi beberapa tips sederhana untuk menyampaikan setiap cerita.
Saya juga ingin menambahkan bahwa ilustrasi -- oleh Susie Poole pada edisi pertama dan Krisztina Kallai Nagy pada edisi kedua -- membuat buku ini tampil sangat menarik.
IP: Mengapa menurut Anda cerita begitu menarik? Mengapa berinteraksi dengan cerita Alkitab bermanfaat?
BH: Cerita menarik karena kita menjalani hidup kita sebagai rangkaian cerita, dan kita berkomunikasi satu sama lain terutama melalui cerita. Kita mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh dalam cerita -- terkadang karena mereka mirip dengan kita, dan terkadang karena mereka mencerminkan sosok yang ingin kita jadi. Kita ikut berjalan bersama mereka dalam perjalanan cerita -- karena setiap cerita pada dasarnya adalah sebuah perjalanan -- dan sering kali kita menemukan apa yang mereka temukan. Bahkan, karena cerita bisa memiliki pengaruh yang sangat besar, kita pun dapat berubah oleh penemuan yang juga mengubah para tokohnya. Kekuatan ini berakar pada daya subversif dari sebuah cerita yang baik. Kita semua tentu pernah mendengar cerita yang sejak awal sudah sangat jelas poin, pesan, atau maknanya, sehingga cerita tersebut terasa seperti palu yang menghantam pelajarannya. Namun, sebuah cerita justru lebih efektif ketika berfungsi sebagai undangan dan membiarkan pembaca atau pendengar menemukan sendiri butiran-butiran kebenaran yang dikandungnya, secara halus dan alami, seiring cerita itu berkembang.
Inilah yang membuat cerita-cerita Alkitab begitu menarik. Kita sering memperlakukannya sebagai cerita yang sarat pesan, dan tentu saja ada pelajaran yang dapat dipetik darinya. Namun, pendekatan ini kadang-kadang justru menyederhanakan narasi-narasi tersebut sampai sudut-sudutnya yang tajam dihaluskan demi menyampaikan pelajaran tertentu. Mengingat bahwa narasi-narasi ini berbicara tentang orang-orang nyata yang hidup pada tempat dan waktu yang nyata menolong kita menghindari reduksionisme semacam itu, sekaligus menjaga kompleksitas para tokohnya -- kompleksitas yang juga kita temui dalam kehidupan kita sendiri. Justru dalam kompleksitas itulah kita menemukan ruang untuk berelasi, baik dengan para tokoh tersebut maupun dengan perjumpaan mereka dengan Tuhan.
Sekarang, memang adil untuk mengatakan bahwa cara kita menceritakan kisah-kisah ini, bahkan pilihan kisah mana yang kita ceritakan, sampai batas tertentu bergantung pada usia pendengar. Namun, bahkan dalam konteks ini pun, menurut saya, ada tanggung jawab untuk menghidupkan para tokoh secara utuh sebisa mungkin dan tidak meninggalkan anak-anak dengan gambaran tokoh yang dangkal dan stereotip, seperti figur kaku dalam flannel graph.
IP: Apa yang Anda pelajari dari keterlibatan Anda dalam hal ini? Dan apa yang Anda amati tentang Yesus sebagai pencerita?
BH: Menceritakan ulang kisah-kisah Alkitab membuat saya menghabiskan lebih banyak waktu bersama teks itu sendiri. Ketika saya melatih para pencerita untuk menciptakan ulang versi cerita mereka sendiri, saya selalu menekankan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah membaca kisah tersebut langsung dari teks. Dengan begitu, mereka tidak sekadar mengulang versi cerita orang lain. Proses ini memaksa mereka membongkar teks dan melihatnya dengan sudut pandang yang segar, sekaligus mendorong mereka menemukan detail-detail tentang tokoh, latar, dan konflik yang sebelumnya mungkin terlewatkan. Saya juga melihat bahwa hal ini dapat menumbuhkan kembali rasa takjub terhadap narasi, terutama ketika menceritakan ulang kisah-kisah yang sudah sangat dikenal.
Saya juga mendorong mereka untuk mencari penjelasan dari buku-buku tafsir ketika mereka tidak sepenuhnya memahami sebuah cerita atau konteksnya. Saya sendiri melakukan hal yang sama. Karena itu, saya berharap bahwa bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia bercerita telah menolong saya memahami narasi-narasi tersebut dengan lebih baik, termasuk narasi besar Kitab Suci secara keseluruhan.
Mengenai cara Yesus bercerita, sangat menarik melihat bagaimana dia menggunakan teknik-teknik bercerita tradisional. Dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, misalnya, dia bukan hanya memakai unsur pengulangan ketika menggambarkan Imam, orang Lewi, dan orang Samaria yang melewati orang yang terluka, tetapi juga memanfaatkan pola "kelompok tiga". Selain dalam beberapa kesempatan tertentu, Yesus tampaknya senang membiarkan para pendengar-Nya menemukan sendiri makna cerita-cerita itu, daripada menekankan sebuah poin secara langsung.
Gereja pertama yang saya pimpin memiliki jemaat lanjut usia yang sangat mengenal Alkitab.
IP: Beberapa orang mungkin berargumen bahwa Alkitab berbicara tentang jauh lebih banyak hal daripada sekadar cerita, dan bahwa dengan berfokus pada unsur cerita Anda justru melewatkan bagian-bagian penting dari Alkitab. Bagaimana Anda menanggapi hal itu?
BH: Saya kira saya akan mengatakan bahwa banyak, jika bukan sebagian besar, unsur lain justru lahir dari cerita-cerita tersebut, bukan sebaliknya. Karena itu, jika kita tidak memahami kisah-kisah itu, banyak hal yang kita jumpai dalam Mazmur, misalnya, menjadi sulit dipahami. Mazmur-mazmur tidak hanya berulang kali merujuk pada kisah Israel, tetapi bahkan mazmur yang tidak secara langsung mengacu pada narasi tertentu pun tetap mencerminkan pemahaman tentang siapa Allah dan apa yang Dia lakukan, yang berakar pada kisah-kisah tersebut. Hal yang sama juga berlaku, meskipun mungkin dengan cara yang lebih halus, pada sebagian literatur hikmat. Para nabi pun terus-menerus merujuk pada kisah masa lalu Israel untuk menantang perilaku umat dalam kisah masa kini yang sedang berlangsung, sekaligus memproyeksikan respons Allah terhadap masa depan mereka.
Melalui cara Allah berurusan dengan umat-Nya, yang tercatat dalam sejarah mereka -- dari Abraham, Musa, dan Daud, hingga masa kerajaan yang terpecah dan pembuangan -- mereka memahami siapa Dia. Apakah mengherankan jika Mazmur 78 menantang para pembacanya untuk meneruskan kisah Allah kepada generasi berikutnya:
Adapun Perjanjian Baru, sekali lagi kisah Yesus menjadi dasar bagi teks-teks lainnya. Surat-surat ditulis untuk menguraikan dan memahami karya serta sifat Yesus, yang kisah hidup-Nya disampaikan oleh para pengikut-Nya, lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Memang benar bahwa Injil-Injil kemudian muncul secara formal dari komunitas-komunitas tersebut, tetapi kisah Yesus dan refleksi atas kisah itu yang kita temukan dalam surat-surat merupakan sebuah percakapan yang hidup dan terus berkembang, yang tidak mungkin ada tanpa kisah tersebut.
Saya pikir hal yang sama juga berlaku bagi kisah-kisah gereja mula-mula. Beberapa tahun yang lalu, Conrad Gempf dan saya menulis sebuah buku berjudul "Paul: Man on A Mission". Kami ingin memperkenalkan Paulus sebagai sebuah sumber bagi keluarga, dan salah satu tujuan kami adalah menjelaskan ajaran Paulus dengan cara menceritakan kisah hidupnya.
IP: Apa jenis umpan balik yang Anda terima? Apakah itu menginspirasi?
BH: Umpan balik yang saya terima secara konsisten positif -- dan itu bukan semata-mata karena ulasan lima bintang di Amazon. Tahun 2020 menandai peringatan ke-25 penerbitan buku tersebut (dan, ya, memang ada edisi peringatan ke-25 yang dijual). Karena itu, saya sampai pada titik di mana saya kini bertemu dengan para orang tua yang menggunakan Storyteller Bible bersama anak-anak mereka, padahal mereka sendiri diperkenalkan pada buku itu ketika masih kanak-kanak. Pengalaman itu sangat menginspirasi.
Yang bahkan lebih menginspirasi lagi adalah kenyataan bahwa buku ini telah menjadi teks utama bagi Open the Book sepanjang lebih dari dua puluh tahun perjalanannya. Program ini dimulai sebagai proyek Millennial Bible Storytelling oleh gereja-gereja di Bedford pada tahun 1999, dan kini Open the Book menjadi bagian dari Bible Society. Lebih dari 17.000 pencerita secara rutin menggunakan buku ini untuk menyampaikan kisah Allah kepada sekitar 800.000 anak di lebih dari 3.000 sekolah di Inggris dan Wales. Menjadi bagian dari inisiatif ini merupakan sebuah kehormatan besar, jauh melampaui apa yang pernah saya bayangkan ketika menulis buku ini bertahun-tahun yang lalu.
IP: Apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk "The Storyteller Bible"? Dan proyek apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?
BH: The Storyteller Bible telah berkembang menjadi serangkaian buku Storyteller lainnya yang berfokus pada jenis-jenis kisah Alkitab tertentu secara lebih mendalam. Ada "The Storyteller Christmas Book", "The Storyteller Easter Book", dan "The Storyteller Book of Parables". Tahun ini, kami mengumpulkan kisah-kisah dari semua koleksi tersebut ke dalam sebuah buku berjudul "The Lion Storyteller Family Bible". Gagasan utamanya adalah menciptakan sebuah Alkitab keluarga yang tidak hanya terlihat indah di rak, tetapi benar-benar digunakan oleh keluarga untuk menjelajahi Alkitab bersama. Karena itu, setiap cerita diperluas dari satu halaman menjadi dua halaman, lalu kami mengambil ilustrasi tokoh-tokoh dari cerita-cerita tersebut untuk mengajukan pertanyaan kepada pembaca tentang teksnya. Di akhir setiap cerita juga disertakan tautan ke kisah-kisah lain yang berkaitan dengan narasi tersebut, serta saran untuk doa. Care for the Family sangat mendukung proyek ini, dan harapan saya buku ini dapat menjadi sumber yang menolong para orang tua mewujudkan Mazmur 78 dalam kehidupan keluarga mereka.
Selama masa 'lockdown', beberapa proyek baru juga diluncurkan. Saya menulis sebuah buku berjudul "The Link-It-Up Bible" untuk SPCK, yang menceritakan kisah besar Alkitab dengan menyoroti keterkaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta hubungan antara satu cerita dengan cerita lainnya. Ada pula sebuah seri buku bayi yang indah, yang menyajikan kembali ayat-ayat Alkitab dalam bentuk doa-doa sederhana. Penerbit The Good Book menerbitkan sebuah buku bergambar yang indah tentang kisah Paulus dan Silas bersama penjaga penjara Filipi, berjudul "The Prisoners, the Earthquake and the Midnight Song". Dalam buku ini, saya menggunakan bunyi-bunyian dalam cerita untuk mengikat keseluruhan narasi, dan Catalina Echeverri dengan cerdas menjadikan bunyi-bunyian tersebut sebagai bagian dari ilustrasinya yang memukau. Saya tahu banyak orang menyukai kumpulan cerita Alkitab -- dan saya sendiri telah menulis lebih dari satu -- tetapi ada sesuatu yang istimewa dalam cara sebuah buku bergambar yang baik dapat menarik pembaca masuk ke dalam cerita secara mendalam dan membuatnya lebih berkesan.
Proyek-proyek mendatang mencakup sebuah buku "Act Along Bible" untuk anak-anak usia lima dan enam tahun, sebuah buku berjudul "Welcome to the Journey" untuk ibadah baptisan, serta satu seri yang terdiri dari empat buku bergambar yang diangkat dari perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Allah.
IP: Sepertinya Anda sangat sibuk! Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berbincang -- dan kami berdoa agar Tuhan terus memberkati pelayanan yang indah ini!
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Psephizo |
| Alamat artikel | : | https://www.psephizo.com/biblical-studies/teaching-scripture-through-storytelling/ |
| Judul asli artikel | : | Teaching Scripture through storytelling |
| Penulis artikel | : | Ian Paul |
- Log in to post comments