Menceritakan Kisah Anda dengan Yesus sebagai Pahlawan

Saya ingin setiap murid memiliki tiga kemampuan ini agar mereka dapat menjalani misi dalam kehidupan sehari-hari:

1. Kemampuan untuk menyampaikan Injil dengan cara yang menarik -- sebab Injil adalah kabar baik!

2. Kemampuan untuk membagikan kisah iman mereka dengan Kristus sebagai pahlawannya.

3. Kemampuan untuk mendengarkan kisah teman mereka dengan belas kasih dan kepekaan.

Inserted image

Jeff Vanderstelt dan rekan-rekan di SOMA membuat sebuah panduan yang berguna. Panduan ini memakai kerangka kisah Allah untuk membantu orang menceritakan kisah mereka dengan Yesus sebagai pahlawan. Panduan ini juga menolong orang belajar mendengarkan kisah orang lain supaya mereka dapat menghubungkan kisah itu dengan Injil.

"Setiap pengikut Yesus memiliki kisah untuk diceritakan, dan kisah itu adalah tentang Allah dan anugerah-Nya. Namun, banyak dari kita belum diperlengkapi untuk menceritakan kisah kita dengan cara yang mengarahkan orang kepada Yesus sebagai pahlawan. Sebagai orang-orang yang ingin menunjukkan dan membagikan Yesus setiap hari, kita perlu belajar berbicara tentang Dia melalui kisah hidup kita. Sering kali, menceritakan kisah kita menjadi cara yang paling alami untuk berbicara tentang Yesus kepada teman-teman kita yang belum percaya.

Setiap kisah besar memiliki empat bagian: Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan, dan Pemulihan. Kisah Allah juga mengikuti pola yang sama. Kisah Allah adalah Kisah Agung, yaitu kisah yang menolong kita memahami semua kisah lainnya. Kisah Allah adalah Kabar Baik yang terutama, Injil yang kita temukan dalam halaman-halaman Alkitab. Memahami pola Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan-Pemulihan dalam Kisah Allah akan menolong kita memahami kisah kita sendiri, juga dunia yang rusak tempat kita hidup. Di bawah ini adalah ringkasan singkat dari keempat bagian tersebut beserta tema-tema yang muncul dalam masing-masing bagian." -- DNA Guide, hlm. 28.

Premis dasarnya adalah bahwa setiap kisah menemukan makna sejatinya dalam Kisah Allah -- Penciptaan, Keterpisahan, Penebusan, dan Pemulihan. Setiap bagian besar dalam kisah Alkitab memiliki tema-tema yang juga dapat kita temukan dalam kisah hidup kita. Di bawah ini, Anda akan melihat tema-tema tersebut beserta pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu orang menyusun kisah mereka.

Empat Bagian Kisah

Penciptaan: Kisah Allah dimulai dengan identitas dan asal-usul.

  • Siapa atau apa yang paling membentuk pemahaman Anda tentang diri sendiri?
  • Apa saja yang selama ini menjadi sumber nilai diri dan identitas Anda?
  • Seperti apa hubungan Anda dengan anggota keluarga Anda?
  • Pada masa lalu, bagaimana Anda memandang Allah?

Keterpisahan: Kisah Allah menyoroti kerusakan dan sikap saling menyalahkan.

  • Dalam hal apa hubungan Anda dengan Allah dan sesama tidak berjalan sebagaimana yang Allah kehendaki sejak semula?
  • Pengalaman menyakitkan apa yang pernah sangat memengaruhi hidup Anda? Bagaimana Anda menanggapinya?
  • Bagaimana Anda berusaha memperbaiki kerusakan itu? Apakah usaha tersebut berhasil?

Penebusan: Kisah Allah menonjolkan penyelamatan dan pembebasan.

  • Bagaimana Yesus telah menebus dan menyelamatkan Anda melalui kematian-Nya di kayu salib?
  • Bagaimana Anda sampai pada titik untuk menaruh iman dan percaya kepada Yesus sebagai Pribadi yang menyelamatkan dan memulihkan Anda?
  • Apakah Roh Kudus memakai orang lain, Alkitab, keadaan yang sulit, pesan, atau mimpi untuk menuntun Anda?

Pemulihan: Kisah Allah menjanjikan pengharapan dan masa depan.

  • Apa yang sudah berubah atau sedang berubah dalam hidup Anda saat ini?
  • Siapa atau apa yang menjadi fokus hidup Anda sekarang?
  • Apa yang Anda harapkan akan berubah dalam satu bulan, satu tahun, dan sepuluh tahun ke depan karena hubungan Anda dengan Yesus?
  • Dalam hal-hal spesifik apa Anda melihat Roh Kudus membentuk Anda menjadi semakin serupa dengan Yesus?

Ketika saya memakai panduan ini untuk melatih kelompok komunitas kami, kami meminta setiap orang menuliskan kisah mereka. Kami percaya bahwa menulis kisah tersebut sangat membantu, bahkan dapat menjadi sesuatu yang mereka simpan. Mereka bisa memotretnya dan menyimpannya agar dapat dibaca kembali.

Selama beberapa minggu, kami memberi kesempatan kepada setiap orang untuk membagikan kisah mereka dalam waktu 5-7 menit. Jika lebih mudah, mereka boleh membacakannya.

Kami mendorong orang-orang yang mendengarkan untuk mencatat apa yang mereka pelajari tentang asal-usul orang tersebut, apa yang salah atau rusak dalam hidupnya, siapa pahlawan dalam kisahnya, serta perubahan atau pengharapan apa yang mereka dengar. Sangat penting untuk melatih murid bukan hanya menceritakan kisah mereka, tetapi juga mendengarkan kisah orang lain. Mendengarkan tidak hanya menunjukkan kepedulian yang tulus, tetapi juga menolong kita melihat pintu masuk untuk membagikan Injil.

Ketika seseorang membagikan bagian mana pun dari kisahnya kepada kita, itu adalah sebuah pemberian yang berharga. Dia sedang membuka hatinya kepada kita. Karena itu, kami melatih para murid untuk saling mengucapkan terima kasih setelah seseorang membagikan kisahnya.

Setiap pengikut Yesus memiliki kisah untuk diceritakan, dan kisah itu adalah tentang Allah dan anugerah-Nya.

Kemudian, sebelum memberi tanggapan apa pun, kami mendorong mereka untuk mengajukan setidaknya tiga pertanyaan kepada orang tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu berfokus pada klarifikasi atau pengenalan yang lebih dalam. Pertanyaan klarifikasi menolong kita memahami bagian-bagian penting yang mungkin belum diceritakan. Pertanyaan pengenalan menolong kita bergerak dari fakta menuju perasaan. Biasanya, lebih mudah bagi kita untuk menyebutkan fakta -- sesuatu yang terjadi dalam hidup -- sebelum menceritakan bagaimana peristiwa itu memengaruhi perasaan kita. Kita ingin turut memahami rasa sakit dan sukacita orang lain. Pertanyaan seperti ini menolong kita memahami dengan lebih baik bagaimana situasi atau keadaan tertentu membentuk dan memengaruhi orang yang sedang bercerita.

Pastikan bahwa pahlawan dalam kisah itu benar-benar Yesus. Kadang-kadang, tanpa sadar, kita dapat menceritakan kisah kita dengan menjadikan diri sendiri, mentor, teman, atau hal lain sebagai pahlawan. Pastikan Yesus tetap menjadi pusat perhatian.

Sering Menceritakan Kisah

Seorang teman melatih semua murid yang sudah percaya untuk menceritakan kisah mereka dalam tiga menit. Setiap kali ada murid baru datang ke salah satu kelompok kecil mereka, pemimpin kelompok memperkenalkan murid itu kepada anggota kelompok. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan ringan untuk saling mengenal. Setelah itu, mereka meminta salah seorang murid menceritakan secara singkat apa yang mereka lakukan dalam kelompok tersebut. Para murid tahu bahwa ketika mereka berbicara tentang kelompok itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk membagikan kisah mereka.

Kebiasaan ini menghasilkan dua hal:

1. Kebiasaan ini menolong murid belajar menyampaikan kisah mereka secara teratur, dimulai dari tempat yang aman, yaitu dalam kelompok. Jika mereka dapat melakukannya di kelompok kecil yang dikelilingi teman-teman, mereka akan lebih percaya diri untuk membagikan kisah mereka kepada teman sebaya di luar waktu program.

2. Ketika seorang murid membagikan kisah tiga menitnya kepada seseorang yang baru pertama kali datang ke kelompok, hal itu menyampaikan pesan bahwa kita semua adalah orang-orang yang rusak, dan Yesuslah yang menyatukan kita. Berbicara tentang Yesus adalah hal yang wajar bagi para remaja, bukan hanya bagi para pemimpin dewasa.

Bagaimana Anda menolong murid-murid menceritakan kisah mereka dan mendengarkan orang lain? (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : The Evangelical Free Church
Alamat artikel : https://blogs.efca.org/posts/telling-your-story-with-jesus-as-the-hero
Judul asli artikel : Telling Your Story With Jesus As The Hero
Penulis artikel : Shane Stacey
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!